LPB Hatapa Dampingi Peternak Menghasilkan Pupuk Organik Bernilai Ekonomi
Barito Utara – Bagi Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Hatapa, keberhasilan sebuah program pemberdayaan tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan. Dampak yang sesungguhnya tercipta ketika ilmu yang telah diberikan mampu diterapkan secara konsisten dan menghasilkan perubahan nyata bagi pelaku usaha. Atas dasar itu, LPB Hatapa melaksanakan program pendampingan Pembuatan Pupuk Kompos dari Limbah Kohe Sapi sebagai tindak lanjut dari pelatihan yang telah dilaksanakan sebelumnya.
Pendampingan dilaksanakan pada 9 dan 13 Juni 2026 di Kelompok Peternak Sapi Mekar Sari, Transabangdep, Desa Bintang Ninggi I, Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara. Kegiatan ini bertujuan memastikan para peserta mampu mengimplementasikan teknik pembuatan pupuk kompos secara mandiri sekaligus meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan agar memiliki nilai ekonomi.
Sebanyak delapan UMKM binaan mengikuti kegiatan pendampingan yang dipandu langsung oleh Tita, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Peternakan dari Dinas Pertanian Kabupaten Barito Utara. Fokus pendampingan meliputi evaluasi hasil pengomposan, penyempurnaan teknik produksi, serta memastikan pupuk kompos yang dihasilkan memenuhi standar dasar kualitas sehingga layak digunakan maupun dipasarkan.
Berbeda dengan sesi pelatihan yang lebih menitikberatkan pada penyampaian materi, pendampingan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk menerapkan seluruh tahapan produksi secara langsung. Tim pendamping melakukan evaluasi terhadap proses fermentasi, tingkat kematangan kompos, kelembapan bahan, tekstur, warna, hingga aroma kompos sebagai indikator keberhasilan proses pengomposan. Dari hasil evaluasi tersebut, peserta memperoleh berbagai masukan teknis untuk menyempurnakan proses produksi dan menjaga konsistensi kualitas produk.
Koordinator LPB Hatapa, Amirrullah, menyampaikan bahwa pendampingan merupakan tahapan penting dalam memastikan ilmu yang diperoleh selama pelatihan benar-benar diterapkan di lapangan.
“Pelatihan memberikan pengetahuan, tetapi pendampingan memastikan pengetahuan tersebut menjadi keterampilan yang menghasilkan manfaat nyata. Melalui proses ini, kami ingin mendorong kelompok peternak agar mampu menghasilkan pupuk organik yang berkualitas, memiliki nilai jual, dan menjadi sumber pendapatan baru bagi anggotanya,” ujarnya.
Hasil pendampingan menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Pengetahuan dan keterampilan UMKM binaan dalam mengolah limbah kohe sapi terus meningkat, sehingga mereka mampu menghasilkan pupuk kompos dengan kualitas yang lebih baik. Capaian ini menjadi bukti bahwa proses pembinaan yang berkelanjutan mampu meningkatkan kapasitas pelaku usaha sekaligus mendorong lahirnya inovasi berbasis potensi lokal.
Salah satu hasil nyata dari program ini adalah Kelompok Peternak Sapi Mekar Sari yang telah memulai produksi pupuk organik secara mandiri dengan merek “Mekar Sari Subur Tani – Pupuk Organik”. Kehadiran produk tersebut menjadi bukti bahwa limbah peternakan dapat diolah menjadi komoditas bernilai tambah yang tidak hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi kelompok peternak.
Selain memberikan manfaat ekonomi, pemanfaatan limbah ternak menjadi pupuk organik juga mendukung penerapan konsep ekonomi sirkular, di mana limbah dari sektor peternakan dimanfaatkan kembali sebagai input bagi sektor pertanian. Pendekatan ini menciptakan sistem usaha yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Ke depan, LPB Hatapa akan terus mendampingi Kelompok Peternak Sapi Mekar Sari dalam meningkatkan kualitas produk, menyusun standar proses produksi, memperkuat identitas merek, mengurus legalitas usaha, hingga mengembangkan strategi pemasaran. Pendampingan tersebut diharapkan mampu menjadikan pupuk organik lokal sebagai salah satu produk unggulan UMKM Barito Utara yang memiliki daya saing di pasar.
Melalui pembinaan yang berkesinambungan, LPB Hatapa meyakini bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya menghasilkan peningkatan keterampilan, tetapi juga menciptakan usaha yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan. Ketika ilmu diterapkan secara konsisten, limbah tidak lagi menjadi persoalan, melainkan berubah menjadi sumber nilai tambah yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
